Sobat Pustaka, tahukah kalian
bahwa kemampuan mengelola uang sama pentingnya dengan kemampuan membaca dan
menulis? Di tengah semakin mudahnya transaksi digital, masyarakat tidak cukup
hanya memiliki rekening bank atau menggunakan dompet digital. Kita juga perlu
memahami bagaimana mengelola uang, mengenali risiko, dan memilih layanan
keuangan yang sesuai kebutuhan.
Kabar menarik datang dari
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK)
2026, OJK bersama industri jasa keuangan dan berbagai pemangku kepentingan
berhasil menyelenggarakan 6.446 kegiatan literasi dan inklusi keuangan
sepanjang Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjangkau lebih dari 798 ribu
peserta di seluruh Indonesia.
Tidak hanya itu, program ini juga
mencatat pembukaan sebanyak 27,23 juta rekening dan akun layanan keuangan baru.
Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya upaya membuka akses masyarakat
terhadap layanan keuangan formal.
Sobat Pustaka, angka 27,23 juta
tentu bukan jumlah yang sedikit. Berdasarkan siaran pers resmi OJK pada 30
Oktober 2026, capaian tersebut berasal dari berbagai sektor jasa keuangan.
Rinciannya meliputi 7,21 juta
rekening perbankan, 2,07 juta rekening pasar modal, 5,38 juta polis asuransi,
2,07 juta rekening perusahaan pembiayaan, 4,63 juta rekening pegadaian, serta
5,87 juta akun teknologi finansial atau fintech.
Capaian ini memperlihatkan bahwa
akses terhadap layanan keuangan semakin beragam. Masyarakat tidak hanya
mengenal tabungan di bank, tetapi juga berbagai instrumen dan layanan keuangan
lainnya.
Namun, perlu diingat bahwa
bertambahnya rekening bukan berarti otomatis masyarakat semakin sejahtera.
Setiap orang tetap perlu memahami manfaat, biaya, risiko, serta kewajiban dari
layanan yang digunakan.
Baca Juga:
OJK Ajak Generasi Muda Rajin Menabung demi Masa Depan Cerah
Literasi Keuangan Harus
Sejalan dengan Inklusi Keuangan
Secara sederhana, literasi
keuangan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan seseorang dalam
mengelola keuangan. Sementara itu, inklusi keuangan berkaitan dengan kemudahan
masyarakat dalam memperoleh akses terhadap produk dan layanan keuangan formal.
Keduanya harus berjalan
beriringan. Bayangkan seseorang memiliki rekening, tetapi tidak memahami biaya
administrasi, bunga pinjaman, atau risiko penipuan digital. Akses yang dimiliki
belum tentu memberikan manfaat optimal.
Karena itu, Kepala Eksekutif
Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen
OJK, Dicky Kartikoyono, menekankan pentingnya membangun kepercayaan masyarakat
melalui layanan keuangan yang transparan, bertanggung jawab, dan sesuai
kebutuhan.
Semua Kalangan Perlu
Mendapatkan Edukasi Keuangan
Program Bulan Inklusi Keuangan
2026 juga menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, perempuan,
pelaku UMKM, petani, nelayan, pekerja sektor informal, penyandang disabilitas,
hingga masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Langkah ini penting karena setiap
kelompok memiliki kebutuhan keuangan yang berbeda. Pelajar perlu belajar
menabung, pelaku UMKM membutuhkan kemampuan mencatat arus kas, sedangkan
keluarga perlu memahami cara menyusun anggaran dan mengendalikan pengeluaran.
Baca Juga:
BMKG Petakan Risiko Kebakaran di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan pada 25–31 Oktober 2026

0 Response to "OJK Gelar 6.446 Kegiatan Literasi Keuangan, Jangkau 798 Ribu Peserta dan Cetak 27,23 Juta Rekening Baru"
Post a Comment