Karhutla Taman Nasional Tanjung Puting Dipadamkan Sejak 29 Oktober

 


Sobat Pustaka, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Di dalamnya terdapat kehidupan berbagai satwa, sumber air, serta ekosistem yang memiliki peran penting bagi keseimbangan alam. Karena itu, ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan konservasi, dampaknya patut menjadi perhatian kita bersama.

Kabar terbaru datang dari Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sejak Kamis malam, 29 Oktober hingga Minggu, 1 November 2026, tim gabungan terus berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mengendalikan kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut.

Tim Gabungan Hadapi Medan Sulit

Upaya pemadaman melibatkan personel kepolisian, Satbrimob Polda Kalimantan Tengah, relawan, serta unsur terkait lainnya. Petugas melakukan penyisiran, pemadaman, dan pembasahan pada area terdampak untuk mencegah api kembali menyala maupun merambat ke kawasan hutan yang lebih luas.

Bukan pekerjaan mudah. Sejumlah lokasi kebakaran berada di kawasan dengan akses terbatas. Petugas harus menghadapi medan yang sulit dijangkau, asap tebal, serta kondisi lahan yang menyulitkan proses pemadaman.

Bahkan, berdasarkan laporan di lapangan, operasi dilakukan hingga malam hari. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengendalikan api sekaligus memastikan tidak ada bara yang tertinggal.

Baca Juga:
15 Pemuda Pelopor Kalsel 2026 Raih Penghargaan

Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?

Sobat Pustaka, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di kawasan ini adalah karakteristik lahan gambut.

Api dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah. Artinya, meskipun kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat, bara di dalam lapisan gambut masih berpotensi memicu kebakaran kembali.

Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya menyiram bagian yang terbakar. Petugas juga perlu melakukan pendinginan dan pemeriksaan berulang agar titik api benar-benar terkendali.

Habitat Orangutan Ikut Terancam

Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi penting di Kalimantan Tengah, terutama sebagai habitat orangutan Kalimantan dan berbagai satwa liar lainnya.

Kebakaran yang meluas dapat merusak vegetasi, menghilangkan sumber pakan, serta mengganggu ruang hidup satwa. Sebelumnya, petugas juga telah memprioritaskan pencegahan agar api tidak menjalar menuju kawasan pemberian pakan orangutan dan area inti konservasi.

Inilah alasan mengapa penanganan karhutla di Tanjung Puting membutuhkan kerja sama dan pengawasan berkelanjutan.

Baca Juga:
Bulan Bahasa 2026 Hadirkan 16 Produk Bahasa dan 2 Program Wiyata Kinarya

0 Response to "Karhutla Taman Nasional Tanjung Puting Dipadamkan Sejak 29 Oktober"

Post a Comment